12. Kematian Amba dan Kelahiran Shikhandi

SIWA, sang penghancur, kekuatan ilahi yang memungkinkan terjadinya peleburan dan kelahiran kembali, memandangi Amba dengan sorot mata penuh kasih. “Kamu sendiri, Amba,” katanya. “Tidak ada yang akan membuatmu bahagia selain kamu melakukannya dengan tanganmu sendiri.”

“Aku? Bahkan Rama Bhargawa tidak mampu membunuhnya.”

“Tidak dalam kehidupanmu saat ini, tetapi dalam kehidupanmu yang berikutnya.”

Amba menggeleng-gelengkan kepalanya dalam gerakan tak sadar.

“Tapi di kehidupan berikutnya aku tidak akan mengingat apa pun yang pernah terjadi dalam kehidupan saat ini. Apa manisnya balas dendam jika tidak ada apa pun yang kuingat?”

“Kamu akan mengingatnya, Amba. Kamu akan mengingat apa saja, seolah-olah tak ada kematian yang memisahkan kehidupanmu saat ini dengan kehidupanmu yang akan datang.”

Seketika itu juga Amba bersujud dan mencium kaki Siwa. Dia merasakan bunga-bunga musim semi bermekaran dalam dadanya setelah bertahun-tahun musim dingin. Dia merasa tubuhnya begitu ringan setelah Siwa memberkatinya.

"Tuanku, di mana aku nanti dilahirkan kembali?”

"Di tempat untaian bunga teratai tergantung. Ia menunggumu."

Amba segera mengumpulkan ranting-ranting kering begitu Siwa menghilang dari pandangan dan menyalakan sebatang dengan kekuatan pikirannya. Tak lama kemudian api membesar membakar tumpukan ranting-ranting itu. Amba memejamkan mata di depan api unggun yang berkobar dan menggumamkan nama Siwa 99 kali, lalu dengan paras wajah yang bahagia dia masuk ke dalam api, dan api mengubahnya menjadi abu, dan abu memancarkan keharuman, dan angin menghantarkan keharuman abu ke lereng-lereng pegunungan dan lembah-lembah.

*

Atas izin Siwa, Amba dilahirkan kembali tanpa perlu menunggu waktu. Dengan seluruh ingatan terhadap kehidupannya di masa lalu, dan dengan dendam yang terus terpelihara, dia lahir kembali sebagai putri raja Drupada dari Pancala. Ayahnya menamainya Shikhandin.

Drupada sedikit kecewa pada mulanya karena berharap anak pertamanya lelaki. Ia tekun melakukan samadi, memohon kepada Siwa agar memberinya anak lelaki, tetapi Siwa memberinya anak perempuan. Namun, perasaan kecewa itu segera berganti dengan perasaan sayang. Shikhandin begitu cantik, dengan mata hitam yang memendam sesuatu di kedalamannya, dan Drupada merasa akrab sekali dengan paras cantiknya, seolah-olah mereka sudah pernah saling berjumpa sebelumnya. Dan, seperti memahami harapan ayahnya, Shikhandin tumbuh sebagai putri yang tangkas dan memperlihatkan keberanian jauh melebih keberanian anak-anak lelaki.

Suatu hari, ketika Shikhandin baru berusia tujuh tahun, Drupada membawanya ke balairung untuk kali pertama. Dia bermain dengan para prajurit istana ketika ayahnya sedang menerima beberapa punggawa di paseban, dan tiba-tiba matanya tertuju pada untaian bunga teratai di pilar, dengan dupa persembahan di depannya.

“Paman, aku mau melihat itu,” katanya kepada seorang prajurit.

Ia meminta prajurit itu memanggulnya di pundak dan si prajurit memenuhinya karena tidak bisa menolak permintaan putri raja. Mata Shikhandin berbinar. Ia menyentuh kelopak teratai yang tak pernah layu itu dengan tangan mungilnya dan kemudian melepaskan untaian itu dari pilar dan mengalungkannya ke lehernya sendiri.

Di singgasananya, Drupada tercekat melihat apa yang dilakukan oleh putrinya. Dia berdiri dan berteriak kepada para pengawalnya, “Bodoh! Kenapa kalian tidak mencegahnya? Shikhandin, kembalikan untaian bunga itu.”

Prajurit yang memanggul Shikhandin gemetar mendengar hardikan raja dan seketika ia merasa tubuhnya lunglai dan ia ambruk di lantai. Shikhandin melompat dengan sigap dari pundak prajurit yang rubuh. Ia berdiri tenang dan memejamkan mata dan merasakan kebahagiaan rahasia memenuhi dirinya begitu untaian bungai itu melingkari lehernya. Dia menyatu dengan takdirnya.

Ketika Shikhandin membuka mata, Drupada terpaku melihat mimik wajah putri kesayangannya. Ada cahaya kemenangan di sana. Putrinya berdiri tegak, seperti ksatria dewasa, dagunya yang lancip terangkat dan mata hitamnya menatap tajam. Dengan suara Amba dari masa lalu, gadis kecil itu berkata, “Drupada, demi untaian bunga inilah aku lahir sebagai putrimu.”

Samar-samar Drupada teringat sesuatu: Seorang wanita cantik pernah datang kepadanya bertahun-tahun lalu dan berbicara dengan nada suara dan sorot mata yang seperti itu. Mungkin ini hanya kebetulan, ia menenteramkan dirinya. Namun, pikirannya tidak pernah bisa tenteram. Pada malam-malam setelah itu, ia diganggu oleh mimpi yang sama. Ia melihat Amba, putri Kasi, berdiri di hadapannya, dengan wajah tegang dan pucat, menyodorinya untaian teratai Kartikeya dan berharap ia sudi mengalungkan untaian itu pada lehernya. Sekarang putri Kasi itu menyatu dengan putrinya dan memakai sendiri untaian bunga itu.

Setelah mengenakannya, Shikhandin tak mau lagi melepaskan untaian teratai itu sejenak pun dari lehernya. Drupada, yang terus terganggu oleh mimpinya dan oleh kegelisahannya sendiri akan murka Bhisma, akhirnya menjadi yakin bahwa Shikhandin adalah Amba. Gadis itu kembali, menitis kepada putrinya, demi menuntut balas kepada Bhisma. Dia sendiri yang melakukan karena tak ada satu ksatria pun yang bersedia memenuhi permintaannya untuk bertarung dengan Bhisma.

Pada malam musim gugur ketika Shikhandin memasuki usia dewasa dan Drupada merasa kian tertekan oleh mimpi-mimpi buruknya dan perasaan bersalah kepada Bhisma, sang raja memanggil putrinya ke puri kediamannya dan mereka bercakap-cakap berdua.

“Shikhandin,” katanya. “Kamu sudah menyampaikan siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan dalam kelahiranmu sebagai putriku.”

“Ya, Ayah,” kata Shikhandin.

“Dan aku tidak pernah punya masalah dengan Bhisma—“

“Aku akan meninggalkan istana, Ayah.”

“Aku tidak mengusirmu, Anakku.”

“Aku bahagia terlahir sebagai putrimu, dan aku tidak ingin merepotkanmu.”

*

Dengan untaian teratai melingkari lehernya, Shikhandin meninggalkan istana Pancala tanpa merasa bahwa ayahnya mengusirnya. Dia tidak berkeberatan sama sekali jika harus mengasingkan diri dari istana. Kaki-kakinya melangkah ringan dan matanya memandang ke satu-satunya tujuan: kematian Bhisma.

Dia menelusuri kembali jalur yang bertahun-tahun lalu ditempuh oleh Amba saat meninggalkan Drupada dengan perasaan hancur. Kini, sebagai Shikhandin, Amba kembali ke hutan, ke pohon tua tempat dia melakukan tapasya. Di tempat itulah Kartikeya memberinya untaian teratai, yang sekarang dia kenakan pada lehernya seolah-olah untaian itu adalah bagian dari tubuhnya. Dia duduk di tempat yang sama di mana Amba pernah duduk, khusyuk dalam padmasana, menghadap ke timur, dan memejamkan matanya. Mulutnya menggumamkan berulang-ulang nama Siwa dan putranya Kartikeya.

Suatu malam, seorang yaksa, makhluk gaib dari ras pepohonan, melintas di sekitar Shikhandin dan terjebak dalam perangkap. Dia merintih dan suara rintihannya terdengar samar-samar memenuhi hutan, membangunkan Shikhandin dari tapasyanya. Putri Pancala itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sumber rintihan dan membebaskan yaksa dari perangkap dengan melantunkan mantra.

Yaksa itu berterima kasih dan tinggal bersamanya hingga fajar. Mereka berbagi cerita, dan Shikhandin menceritakan kehidupan masa lalunya sebagai Amba dan kelahirannya kembali sebagai putri raja Drupada. Menjelang fajar, yaksa bernama Stunakarna itu berkata dengan suara yang terdengar seperti bisikan angin, “Aku memiliki berkah untukmu, jika kamu menginginkannya.”

Shikhandin meyakini bahwa penawaran Stunakarna adalah berkah dari Siwa, sebab Siwa adalah dewa para yaksa, dan dia menyetujui apa yang ditawarkan oleh yaksa itu. Satu jam sebelum fajar, pada penghujung malam, yaksa itu menyentuh Shikhandin dengan jari hijaunya dan seketika itu juga putri raja Drupada berubah menjadi seorang pria. Putri Skhikhandin kini menjadi pangeran Shikhandi dari Pancala.

Bertahun-tahun nanti, di lapangan Kuruksetra, dialah yang mengakhiri keperkasaan Bhisma pada hari kesepuluh perang Bharata.

Shikhandi menunggangi kereta Arjuna dalam perang besar itu, menjadi tameng ketika panglima perang Pandawa tersebut harus berhadapan dengan Bhisma, kakek yang dia hormati dan tak mungkin dia tundukkan. Dengan Shikhandi berada di keretanya, Arjuna leluasa melancarkan serangan kepada Bhisma, sebab Bhisma tidak mengangkat senjata melawan perempuan, dan dia tahu bahwa Shikhandi adalah Amba, perempuan yang dicintainya. Ini satu-satunya cara untuk membunuh ksatria yang tak terkalahkan itu, sebab Bharatayudha tidak akan pernah berakhir jika Bhisma tidak terbunuh.

Seratus panah Arjuna menembus tubuh Bhisma, dan ksatria tua itu berkata, "Ah, semuanya panah Arjuna.”

Kemudian dia merasakan sebatang panah menancap lebih dalam, di dekat jantungnya, panah yang dia tunggu-tunggu, dan dia rubuh dengan senyum pada wajahnya. “Yang ini panah Amba,” bisiknya.

Ketika pertempuran hari kesepuluh diakhiri menjelang senja dan matahari bergerak ke utara, pada saat itulah Bhisma memilih waktu kematiannya. Ruhnya meninggalkan tubuh melalui luka dari panah Amba, dan putra Gangga terbebas dari penderitaan panjang yang harus dia jalani di bumi.[]

 
<< Sebelumnya | Selanjutnya >>

Comments