11. Dendam Amba

DIA berlari menembus hutan lebat. Ranting-ranting mencambuki wajahnya, dan daun-daun kering gemerisik di bawah kakinya, dan air mata membasahi wajahnya yang kusam oleh debu dan kepedihan. Amba hampir tak mengenali dirinya sendiri saat dia melihat bayang-bayangnya di permukaan telaga; kecantikannya seperti memudar oleh dendam, tetapi dia sudah tidak peduli pada penampilan dirinya. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah Bhisma, ksatria terhebat di muka bumi, lelaki yang telah menghancurkannya, dan lelaki itu harus membayar dengan nyawanya.

Kadang-kadang, dia berhenti dan melolong ke arah bintang-bintang yang berkelip dingin di langit malam, meradang dan putus asa, seperti serigala betina kehilangan pasangannya.

Di kedalaman hutan, tempat yang bahkan para resi jarang menjelajah, Amba menemukan pohon tua yang akar-akarnya begitu kuat mencengkeram tanah dan dahan-dahannya menjulur ke segala arah, seolah mencoba meraih sesuatu yang tak terjangkau. Dia duduk di bawah pohon itu, menutup mata, dan mulai berdoa menyerukan nama Kartikeya, dewa perang dan putra Siwa.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan setahun penuh Amba duduk tanpa bergerak. Wajahnya berlumur debu dan kotoran, rambutnya menjuntai kusut dan panjang, dan tapanya begitu sempurna sehingga semesta tergetar oleh kebencian dan tekatnya yang begitu kuat.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama menggantung rendah di langit, Amba mencium aroma tak terlukiskan: harum bunga teratai bercampur wangi cendana dan rempah-rempah surgawi. Lalu suara lembut berbisik di telinganya, seperti gema dari dunia lain.

Pelahan Amba membuka matanya. Di hadapannya berdiri Kartikeya, bercahaya seperti matahari di ufuk timur. Wajahnya tampan dan selalu muda, dan matanya menyorot tajam, dan pakaiannya berkilau seolah ditenun dari benang emas dan perak. Ia memegang untaian bunga teratai yang bercahaya lembut, seakan sinar bulan memancar dari kelopak-kelopaknya.

Amba menjatuhkan diri dan bersujud di hadapan dewa itu. Air matanya menciptakan jejak pada lapisan debu di kedua pipinya.

“Aku tahu tujuanmu, Anakku,” katanya dengan suara penuh kasih. “Aku merasakan derita dan dendammu. Untaian bunga teratai ini berasal dari tamanku. Barangsiapa mengenakannya, ia ditakdirkan membunuh Bhisma demi keadilanmu.”

Dengan tangan gemetar, Amba menerima untaian itu dan merasakan kehangatan mengaliri tubuhnya saat jari-jarinya menyentuh kelopak-kelopak teratai. Cahaya untaian itu memancar lebih terang, menerangi wajahnya yang lelah namun kini memancarkan harapan.

Ketika dia mengangkat wajah untuk berterima kasih, Kartikeya telah menghilang dan hutan kembali sunyi. Namun, kehadiran dewa perang itu masih terasa dalam harum bunga yang tak pernah pudar dan kelopaknya yang tak akan pernah layu. Kedamaian tiba-tiba menyelimuti hati Amba. Bintang-bintang di langit tampak berkilauan lebih cerah di mata gadis itu, seolah turut merayakan kebahagiaannya.

Dengan untaian teratai di tangannya, Amba meninggalkan hutan dan memulai pencarian untuk menemukan seorang ksatria yang akan mengenakan untaian itu. Dia mengembara ke banyak kerajaan, menemui para raja dan pangeran, menceritakan kisahnya dengan suara bergetar, dan menunjukkan kepada mereka untaian teratai pemberian Kartikeya—untaian yang tetap segar, seolah-olah waktu tak menjamahnya. Cahaya lembutnya menerangi ruangan dan wajah orang-orang yang mendengarkan kisahnya.

Dan, tak satu pun bersedia memenuhi permintaan Amba. Wajah mereka memucat dan keberanian mereka menyusut ketika mendengar nama Bhisma. Beberapa menundukkan kepala menghindari tatapan Amba, dan yang lain berusaha memberi alasan bahwa Bhisma adalah sosok tanpa cela, dan membunuh orang yang tanpa cela adalah dosa tak terampuni.

Mata Amba menyala oleh kemarahan yang tak terpadamkan, dan suaranya terdengar seperti kutukan bagi mereka yang menolak permintaannya:

“Kalian berjubah ksatria, tetapi kalian hanya pengecut yang menolak darma untuk menegakkan keadilan!”

Penolakan demi penolakan membuat amarah Amba kian berkobar. Dia terus berjalan, dan akhirnya, dengan hati yang hampir hancur, dia tiba di kerajaan Pancala, dan menceritakan kisahnya kepada Raja Drupada. Suaranya menggema di balairung istana. Untaian bunga di tangannya bersinar lebih terang, seolah-olah merasakan harapan terakhir gadis itu. Para menteri dan ksatria istana berkumpul mendengarkannya penuh perhatian.

Drupada mengerutkan alis. Matanya yang tajam menatap Amba, mencoba menilai kebenaran ucapannya dan pergolakan batin gadis itu. Setelah hening yang panjang, dia menarik napas dalam-dalam.

“Bhisma ksatria terhormat dan tanpa cela,” katanya dengan suara yang terdengar berat. "Aku tak mungkin mengangkat senjata melawannya. Di antara kami tidak ada permusuhan, dan apa yang terjadi padamu bukan masalahku.”

Kata-kata itu menghantam Amba seperti pukulan keras. Harapannya hancur berkeping-keping. Dalam puncak kemarahan, dia melemparkan untaian bunga itu ke arah Drupada. Namun, seperti ada tangan yang menyambut lemparan itu, untaian teratai melayang dengan gerak anggun, berbalik ke arah pilar dan melingkari pilar itu. Cahayanya lebih terang daripada sebelumnya.

Mata Drupada melebar menyaksikan keajaiban yang baru saja terjadi di hadapannya. Namun, ia tidak membatalkan penolakannya. Amba berbalik dan meninggalkan istana. Untaian bunganya tetap tergantung di pilar, tak pernah menjadi layu, cahayanya memancar menerangi ruangan. Para penghuni istana menyalakan lampu di depannya, menyembahnya setiap senja, menganggapnya sebagai berkah dari dewata. Namun, tak satu pun berani menyentuhnya. Mereka tahu bahwa untaian itu menunggu ksatria yang cukup berani untuk menanggalkannya dari pilar, mengalungkannya ke lehernya sendiri, dan menerima takdir yang dibawanya.

Amba meneruskan perjalanannya, menempuh dataran luas, menembus hutan-hutan lebat, dan akhirnya tiba di kaki pegunungan Himalaya, batas antara bumi dan langit, tempat makhluk-makhluk gaib bersarang dan para resi suci melakukan pemujaan.

Tanpa menghiraukan sekelilingnya, ia terus mendaki, melewati jalan-jalan sempit dan tebing-tebing curam, mengabaikan udara dingin dan salju yang mulai turun. Napasnya berubah menjadi uap putih, namun langkahnya tidak melambat. Angin dingin menggigit kulitnya, tetapi dia tidak merasakannya; pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Bhisma harus binasa.

Akhirnya, setelah perjalanan yang melelahkan, dia tiba di Gunung Kailash, puncak suci yang menjulang ke langit, tempat tinggal Dewa Siwa. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Amba berlutut di atas salju yang dingin, tangannya terkepal erat, kuku-kukunya menekan telapak tangan dan membuat telapak tangan itu hampir berdarah.

"Siwa," serunya. Suara seraknya menggema di antara tebing-tebing batu. "Dewa para dewa, dengarkanlah permohonanku!"

Setelah itu hening. Angin berhenti berhembus, dan salju yang turun pelahan seolah-olah membeku di udara. Waktu tampak berhenti. Amba memejamkan mata.

Di tempat itu dia melakukan tapasya, lebih keras dibandingkan sebelumnya. Tubuhnya menjadi kurus kering, namun tekatnya membara seperti api abadi. Dia duduk tidak bergerak, matanya terpejam, pikirannya hanya tertuju pada Siwa. Salju menumpuk di bahunya, rambutnya berubah menjadi es, namun dia tidak merasakan dingin atau lelah.

Dan Siwa datang kepadanya, dua belas tahun kemudian, saat salju mulai mencair dan musim semi menyentuh pegunungan, dan cahaya terang muncul di hadapannya. Siwa, dalam wujud pertapa abadi, tampak di hadapannya saat Amba membuka mata. Ular-ular yang melilit lehernya bergerak pelahan, lingkaran cahaya mengelilingi kepalanya, dan bunga-bunga bermekaran di sekitar kakinya kendati tanah tertutup salju. Burung-burung berkicau dan angin membawa wangi bunga-bunga pegunungan.

"Bangunlah, Anakku," kata Siwa. “Tapasya yang kaulakukan telah mengguncang langit dan bumi. Aku tahu keinginanmu.”

Air mata mengalir di pipi Amba, membentuk jalur hangat di pipinya yang dingin. Dengan suara yang terdengar putus asa, dia bertanya: "Siapa yang akan membunuh Bhisma?"[]


<< Sebelumnya | Selanjutnya >>

Comments