Posts

Showing posts from September, 2024

12. Kematian Amba dan Kelahiran Shikhandi

SIWA, sang penghancur, kekuatan ilahi yang memungkinkan terjadinya peleburan dan kelahiran kembali, memandangi Amba dengan sorot mata penuh kasih. “Kamu sendiri, Amba,” katanya. “Tidak ada yang akan membuatmu bahagia selain kamu melakukannya dengan tanganmu sendiri.” “Aku? Bahkan Rama Bhargawa tidak mampu membunuhnya.” “Tidak dalam kehidupanmu saat ini, tetapi dalam kehidupanmu yang berikutnya.” Amba menggeleng-gelengkan kepalanya dalam gerakan tak sadar. “Tapi di kehidupan berikutnya aku tidak akan mengingat apa pun yang pernah terjadi dalam kehidupan saat ini. Apa manisnya balas dendam jika tidak ada apa pun yang kuingat?” “Kamu akan mengingatnya, Amba. Kamu akan mengingat apa saja, seolah-olah tak ada kematian yang memisahkan kehidupanmu saat ini dengan kehidupanmu yang akan datang.” Seketika itu juga Amba bersujud dan mencium kaki Siwa. Dia merasakan bunga-bunga musim semi bermekaran dalam dadanya setelah bertahun-tahun musim dingin. Dia merasa tubuhnya begitu ringan se...

11. Dendam Amba

DIA berlari menembus hutan lebat. Ranting-ranting mencambuki wajahnya, dan daun-daun kering gemerisik di bawah kakinya, dan air mata membasahi wajahnya yang kusam oleh debu dan kepedihan. Amba hampir tak mengenali dirinya sendiri saat dia melihat bayang-bayangnya di permukaan telaga; kecantikannya seperti memudar oleh dendam, tetapi dia sudah tidak peduli pada penampilan dirinya.  Satu-satunya yang dia pedulikan adalah Bhisma, ksatria terhebat di muka bumi, lelaki yang telah menghancurkannya, dan lelaki itu harus membayar dengan nyawanya. Kadang-kadang, dia berhenti dan melolong ke arah bintang-bintang yang berkelip dingin di langit malam, meradang dan putus asa, seperti serigala betina kehilangan pasangannya. Di kedalaman hutan, tempat yang bahkan para resi jarang menjelajah, Amba menemukan pohon tua yang akar-akarnya begitu kuat mencengkeram tanah dan dahan-dahannya menjulur ke segala arah, seolah mencoba meraih sesuatu yang tak terjangkau. Dia duduk di bawah pohon itu, menut...

10. Perang Tanding Guru dan Murid

BHISMA menenangkan diri dan menjawab pertanyaan gurunya dengan suara yang nyaris seperti bisikan: “Amba.” “Aku ingin kau menikahinya,” kata Bhargawa. Bhisma mengangkat wajah dan memandangi gurunya. “Aku terikat sumpah untuk tidak menikah seumur hidup, Guru.” “Sumpah yang berat. Tetapi aku gurumu, Dewabrata, dan seorang murid bisa melanggar sumpah demi gurunya. Dan aku memerintahkanmu sekarang, kau harus menikahi putri ini. Bukankah kau sendiri ingin menjadikannya istrimu? Aku melihatnya pada matamu.” “Jangan memintaku melakukannya, Guru. Kau tahu sepenting apa sumpahku dan kenapa orang harus menjaga sumpahnya.” "Ya, para penghuni langit dan bumi membicarakan sumpahmu. Tetapi aku telah berjanji kepada Hotrawahana bahwa kau akan menikahi Amba. Apakah kau ingin aku melanggar janjiku? Apakah kau ingin mempermalukan gurumu?" “Mintalah nyawaku, dan aku akan memberikannya dengan senang hati. Tetapi jangan memintaku melanggar sumpah. Aku tidak bisa melakukannya, bahkan demi dirimu.” ...

9. Di Tengah Hutan

SERIBU hari setelah penolakan terakhir Salwa, Amba bangun dari tidurnya dengan amarah yang memuncak kepada Bhisma, tetapi juga dengan harapan untuk menundukkannya—serapuh apa pun harapan itu. Untuk kali pertama kakeknya datang ke dalam mimpinya, rambutnya putih panjang dan janggutnya menjulur menutupi dada. Raja tua itu, yang memutuskan menjadi pengemis setelah turun takhta, muncul dari kabut di tengah hutan, merentangkan tangan untuknya, mengeringkan air mata di kedua pipinya. Pada tengah hari, setelah gelisah memikirkan mimpinya, ia membuat keputusan yang segera dijalankannya. Para resi. Ia harus menemui para resi dan meminta bantuan mereka untuk menghapus air matanya. Saat itu juga Amba meninggalkan istana. Rambut panjangnya tergerai liar dan langkah kakinya tidak stabil. Ia terhuyung-huyung seperti perempuan yang tersesat dalam mimpinya sendiri dan tidak tahu apakah ia sedang berjalan menuju kebebasan atau justru menuju kehancuran. Tak ada bedanya. Para penjaga hanya memandanginya,...

8. Bhisma dan Amba

AMBA tiba di kerajaan Salwa, cantik dan berkilau seperti putri yang keluar dari sebuah mimpi, dan ia turun dari kereta dengan gerak yang tetap anggun meski hatinya tak sabar dan jantungnya berdetak cepat. Langkah-langkahnya ringan menapaki tanah yang baru sekali itu ia datangi, tanah yang asing namun terasa begitu dekat, seolah-olah setiap butir debu di sana telah menunggu kedatangannya selama bertahun-tahun, berabad-abad, menunggu kedatangannya untuk menemui takdir yang telah ditetapkan sejak hari pertama dunia diciptakan. Istana masih terlihat murung, seperti tak pernah sanggup melupakan kekalahan rajanya oleh Bhisma, tetapi Amba tidak melihat itu. Ia melihat kebahagiaannya sendiri di dalam benak: senyum pertama Salwa, sambutannya yang hangat, pelukannya yang gemetar, dan segala yang tidak akan pernah ada dalam hidupnya. Seorang penjaga gerbang mengantarkannya menuju bangsal kencana. Salwa di singgasananya dan para punggawanya duduk bersila di sepanjang sisi kiri dan kanan dinding ba...

7. Tiga Putri Kasi

SERIBU raja dan pangeran berkumpul di balairung swayamvara, di antara karangan bunga, di bawah lengkungan warna-warni, dan udara dipenuhi harum melati. Tiap-tiap orang berharap salah satu putri Kasi akan memilihnya. Mereka bercakap-cakap dalam bisikan, dan tertawa lirih dalam suara yang menyiratkan kecemasan. Amba, Ambika, dan Ambalika duduk di samping ayah mereka, dalam pakaian pengantin, dengan wibawa dan keanggunan yang membuat para raja dan pangeran di balairung saling menakar siapa tiga orang di antara mereka yang paling layak bagi putri-putri itu. Para pendeta istana menunggui jam air, siap mengumumkan waktu yang tepat untuk menyerahkan untaian bunga kepada para putri, dan selanjutnya masing-masing putri akan mengalungkan untaian bunga itu kepada raja atau pangeran yang ia pilih sebagai suami. Karena itulah upacara tersebut dinamai swayamvara, sebab seorang perempuan memilih sendiri (swayam) mempelai lelaki atau ‘vara’-nya. Saatnya telah tiba bagi putri tertua, Amba, untuk me...

6. Memasuki Masa Gelap

PERKAWINAN dengan Satyawati menjadi berkah masa tua bagi Santanu. Ia telah menjalani masa-masa pedih dalam perkawinannya dengan Gangga, jalan hidup yang harus ia tempuh sebagai titisan Mahabhiseka, raja yang dihukum oleh para dewa, dan dua puluh tahun hidup selibat menantikan istrinya muncul lagi untuk menyerahkan putra mereka, dan kini Satyawati, si putri nelayan, memberinya rasa bahagia dengan kesederhanaannya yang liar, pembawaannya yang penuh gairah, dan harum surgawi yang menguar dari tubuh gelapnya. Seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Santanu menggunakan sisa umurnya untuk Satyawati dan menyerahkan kuasa pemerintahan kepada putranya, sehingga rakyat Hastina, meski tidak pernah melihat Bhisma dinobatkan sebagai raja, tetap merasakan kepemimpinan Putra Gangga, raja Hastina tanpa mahkota, yang memerintah kerajaan atas nama ayahnya. Dua putra lahir dari Satyawati, yang diberi nama Citranggada dan Wicitrawirya, dan Bhisma mengasuh kedua adik tirinya dengan rasa cinta seolah-...

5. Lelaki yang Sumpahnya Mengerikan

KUSIR baru selesai memberi makan kuda ketika Dewabrata datang pagi-pagi ke rumahnya, tak jauh dari istal, dan menanyakan kejadian apa yang membuat raja mengurung diri dan menjadikannya orang tua yang melamun sepanjang hari. Lelaki itu diam beberapa waktu. Ia tahu, sebagaimana semua orang di istana tahu, raja sangat mencintai putranya, dan selama empat tahun sejak Dewabrata kembali ke istana, raja adalah ayah yang bahagia. “Ceritakan, Paman,” kata Dewabrata ketika lelaki itu tidak segera menjawab. “Saya tidak berani, Tuan,” kata kusir itu. “Apakah bisa saya bercerita tanpa izin dari raja?” “Wajib. Jika kamu menyayangi raja, kamu wajib menceritakannya kepadaku, sebab raja tidak mau bicara.” “Kalau raja sendiri tidak bicara, saya tidak berani lancang bicara.” “Raja sedang punya masalah, aku tahu. Biasanya dia akan menceritakan apa saja kepadaku, panjang lebar tentang hutan, gunung, langit, tempat-tempat yang dia kunjungi, kisah-kisah leluhur kami—apa saja dia ceritakan kepadaku....

4. Gadis di Atas Perahu

DEWABRATA tumbuh dewasa jauh melampaui usianya. Ia mewujudkan ucapan ibunya menjadi ksatria utama, dan kehadirannya di istana memulihkan lagi kegembiraan hidup Santanu. Pada umur dua puluh ia diangkat menjadi yuwaraja, ahli waris tahta. Hastina bersuka. Dewabrata memiliki kejernihan berpikir dan watak welas asih yang membuat semua orang yakin bahwa kelak, ketika tiba waktunya ia naik tahta, negeri mereka akan lebih mulia, dan lebih makmur, dan mencapai kebesaran di bawah kepemimpinannya. Namun, ada sungai lain, dan tepian lain, yang membelokkan jalan hidup ayah dan anak dan membuat rakyat Hastina tidak akan pernah melihat putra Dewi Gangga menjadi raja mereka. Sungai Yamuna. Di tepi sungai itu Santanu terpikat harum surgawi. Santanu sudah mempercayakan urusan sehari-hari kepada putra mahkota dan ia menikmati waktunya untuk masuk hutan. Ia selalu mencintai hutan. Dan hari itu, hanya ditemani kusir keretanya, ia menjelajah hutan dan tanah-tanah terbuka dan tiba di tepi Yamuna. Kusir ...