3. Putra Gangga
JALAN menuju penderitaan bisa dimulai dari langkah pertama yang seakan-akan menawarkan kebahagiaan. Dan itulah yang terjadi pada Santanu.
Sepuluh tahun Santanu
bersama Gangga, perempuan yang ia lihat dalam mimpi, satu-satunya perempuan
yang ia inginkan menjadi istrinya, dan
mereka bertemu di tepi sungai pada hari senja, dan itu saat paling
bahagia di dalam hidupnya. Ia melamar perempuan itu, menyanggupi secara enteng syarat
yang diajukan, dan membawanya pulang ke istana.
Hari itu Hastina memiliki
ratu, perempuan sungai, cantik dan lembut. Ia memberi Santanu cinta dan
kegelapan sekaligus, dan lebih banyak kegelapan, dan membenamkannya ke dalam
duka yang tak bisa dipertanyakan. Sumpahnya kepada perempuan itu, yang ia pikir
mudah, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan di dalam kegelapan
hanyalah menjadi muram, tidak mengurus diri, dan memperlihatkan kepada siapa
saja bahwa ia cepat tua. Rambutnya masih hitam, tetapi wajahnya layu, bergurat,
dan kantung matanya menebal.
Di puncak penderitaan, Santanu
akhirnya goyah, dan ia melanggar sumpah, dan segalanya menjadi terang pada hari
ia melanggar sumpah. Gangga menjelaskan semua yang dilakukannya, dan gelap menyingkir
seketika dari pikiran Santanu, tetapi duka tidak. Ia mempertanyakan tindakan
Gangga, dan ia harus memikul duka selanjutnya: Perempuan itu meninggalkannya dan
Santanu harus menjalani enam belas tahun yang sunyi.
Selama enam belas tahun
itu ia hidup seperti pertapa di istananya. Ia masuk hutan ketika sedih, menyandang
busur dan anak panah, tetapi tidak lagi membunuh hewan-hewan. Ia hanya memandangi
mereka dan pergi ke tepi sungai menjelang senja, ke tempat ia menemukan Gangga dan
kehilangan Gangga.
Enam belas tahun ia
berbicara dengan batang-batang pohon seolah berbicara dengan Gangga, dengan
batu-batu, dengan kijang di balik gerumbul sana. Sebetulnya ia merintih:
Datanglah, Sungaiku
Datang satu kali
Sebab mataku kehilangan pagi
Telingaku kehilangan nyanyi
Datanglah, Sungaiku
Satu kali. Sebab kemarau pada
batu
Dan dada ini meranggas
Merindukan arusmu
Hari itu, ketika matahari
terbenam di bukit-bukit barat, ia tertidur setelah merintih, di tepian tempat
mereka bertemu pertama kali. Dan ia bermimpi arus sungai berhenti mengalir; dan
Gangga datang lagi kepadanya, membelai wajahnya, memanggil namanya:
“Santanu.”
Ia terbangun dan
mendapati sungai betul-betul terbendung dan Gangga berdiri di hadapannya,
seperti waktu itu.
“Aku hampir tidak mengenalimu,
Santanu.”
“Aku selalu mengenalimu.”
Gangga tidak menua. Ia tak
terjamah waktu.
Santanu, dengan mata
basah dan membiarkan saja air matanya mengalir, melanjutkan ucapannya:
“Terima kasih sudah
menemuiku. Semua orang akan bahagia menyambut kepulanganmu. Mereka merindukan
ratu mereka kembali.”
Gangga tersenyum, menoleh
ke arah barat, mengangkat telunjuknya ke arah matahari yang terbenam.
“Kamu lihat matahari itu,
Santanu. Apakah kamu bisa meminta dia kembali sehingga kamu bisa hidup di hari
yang sama lagi? Tidak ada yang bisa melakukannya. Tidak ada yang sanggup memutar
waktu. Jadi, jauhkan pikiranmu dari apa yang sudah selesai dan jangan berharap akan
bisa mengulanginya lagi.”
Dari hulu sungai, seorang
bocah remaja berlari-lari di permukaan air, seolah-olah ia berlari di atas tanah,
dan ia berhenti di tempat air sungai terbendung.
“Ibu, aku melakukannya,”
kata bocah itu.
“Ya, aku melihatnya,”
kata Gangga.
Bocah itulah yang telah
membendung arus Gangga. Ia menahan aliran sungai dengan menciptakan jaring dari
panah-panahnya, dan air sungai tak mampu melewatinya. Mata sayu Santanu
membelalak, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Gangga memanggil bocah
itu, dan si bocah berlari menemuinya, dan dengan suara polos berkata, “Aku
membendungnya lagi.”
Ibunya menggamit tangan
anak itu dan membawanya ke hadapan Santanu.
“Beri hormat kepada
ayahmu, Dewabrata,” katanya.
Remaja itu memandangi
Santanu dengan mata hitamnya yang cemerlang, wajahnya menampakkan kebingungan,
tetapi sesaat kemudian ia berlutut memberikan hormatnya. Santanu menyentuh
kedua bahu anak itu dan mengangkatnya berdiri; mereka sudah sama tinggi.
“Hari ini anak kita
berumur enam belas, Santanu. Aku mengantarkannya kepadamu. Ia tahu semua yang
harus diketahui oleh seorang pangeran. Resi Wasista sendiri yang mengajarinya
kebijaksanaan, Brihaspati mengajarinya keksatriaan, dan Parasurama mengajarinya
memanah.
“Tidak akan ada orang
lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Ia ksatria
utama.”
Dewabrata memeluk ibunya
kuat-kuat. Lama ia memeluk ibunya, seperti tidak menginginkan perpisahan.
“Aku akan merindukanmu,
Ibu.”
“Kamu tahu caranya jika
ingin menemuiku.”
“Aku akan membendung
sungai lagi, dan kau harus melihatnya lagi.”
Santanu memandangi ibu
dan anak saling berpelukan. Gangga membenamkan wajahnya ke dada Dewabrata. Kemudian
mereka saling melepaskan, dengan gerak tangan yang enggan, dan Santanu, dengan
pandangan yang kabur oleh air mata, melihat Gangga tersenyum kepadanya,
membalikkan tubuh, dan menghilang. Lalu ia merengkuh Dewabrata; dada anak itu
basah oleh air mata ibunya.[]
Comments
Post a Comment