4. Gadis di Atas Perahu
DEWABRATA tumbuh dewasa jauh melampaui usianya. Ia mewujudkan ucapan ibunya menjadi ksatria utama, dan kehadirannya di istana memulihkan lagi kegembiraan hidup Santanu. Pada umur dua puluh ia diangkat menjadi yuwaraja, ahli waris tahta. Hastina bersuka. Dewabrata memiliki kejernihan berpikir dan watak welas asih yang membuat semua orang yakin bahwa kelak, ketika tiba waktunya ia naik tahta, negeri mereka akan lebih mulia, dan lebih makmur, dan mencapai kebesaran di bawah kepemimpinannya.
Namun, ada sungai lain,
dan tepian lain, yang membelokkan jalan hidup ayah dan anak dan membuat rakyat
Hastina tidak akan pernah melihat putra Dewi Gangga menjadi raja mereka. Sungai
Yamuna. Di tepi sungai itu Santanu terpikat harum surgawi.
Santanu sudah
mempercayakan urusan sehari-hari kepada putra mahkota dan ia menikmati waktunya
untuk masuk hutan. Ia selalu mencintai hutan. Dan hari itu, hanya ditemani
kusir keretanya, ia menjelajah hutan dan tanah-tanah terbuka dan tiba di tepi
Yamuna. Kusir membawa kereta ke tepi air agar kuda-kudanya bisa minum.
Dan angin bertiup. Dan Santanu
mencium harum bunga.
Ia turun dari kereta, berjalan
menyusuri tepian mencari sumber bau harum itu, dan menemukan perempuan di atas
perahu tambang—hitam dan cantik dan harum, dan kata-katanya terdengar seperti
nyanyian bagi telinga Santanu ketika perempuan itu menanyakan apakah ia hendak
menyeberang.
Santanu memperkenalkan namanya
kepada perempuan itu dan tak sanggup menyembunyikan keinginan yang datang
seketika itu juga. “Aku ingin membawamu ke istana sebagai istriku,” katanya.
Perempuan itu, seperti
sudah menduga apa yang akan ia dengar, menjawab tenang: “Saya tidak bisa
memutuskan sendiri, Tuanku. Sebaiknya Tuan sampaikan keinginan Tuan kepada ayah
saya. Dia ada di rumah.”
Tangannya menunjuk sebuah
gubuk di tepian, tepat sebelum sungai berkelok memasuki hutan. Santanu bergerak enggan menuju gubuk yang ditunjukkan
oleh perempuan itu; kakinya berat, hatinya berat, ia tidak ingin pergi darinya.
Ayah gadis itu seorang
nelayan. Ia sedang bersila di lantai gubuknya ketika Santanu tiba di ambang
pintu dan lekas berdiri mempersilakan tamunya masuk. Dan Santanu, seperti tidak
sanggup meluangkan waktu untuk sekadar beramah tamah dengan orang yang baru ia
temui, langsung memperkenalkan diri dan menyampaikan keinginannya. Bilah cahaya
sore menerobos celah di dinding gubuk, seperti pedang cahaya, ujungnya menimpa punggung
lelaki itu saat ia membungkuk memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.
“Tidak ada jodoh yang
lebih baik lagi bagi Satyawati jika seorang raja sudah datang melamarnya,” katanya.
“Jika demikian, aku akan
membawanya hari ini juga,” kata Santanu.
“Silakan, Tuanku. Nelayan
tua ini akan sangat bahagia melihat putrinya menemui takdir yang sudah
diramalkan baginya.” Ia menceritakan bahwa bertahun-tahun lalu, seorang bijak mengatakan
bahwa putrinya akan menjadi permaisuri dan keturunannya akan menjadi raja
meneruskan tahta sang ayah. “Maka, Tuanku, bawalah dia jika Tuanku berjanji
menjadikannya permaisuri dan anak yang kelak lahir dari rahimnya akan menjadi
raja menggantikan Tuanku.”
Nelayan tua itu menundukkan
wajah setelah mengucapkan syarat kepada Santanu. Sikapnya tenang, seolah-olah
ia hanya menyampaikan harapan yang wajar untuk putrinya kepada lelaki yang
datang meminang.
Santanu memandangi lelaki
tua di hadapannya dengan perasaan campur aduk antara kalut dan tersinggung, dan
juga tak berdaya. Tetapi ia masih sanggup menahan diri. Ia telah memikul
penderitaan dan mampu menekan amarah selama menjalani tahun-tahun terberat hidupnya
tanpa bertanya. Sekarang lelaki di hadapannya, seorang nelayan tua, hanya pria jelata
penghuni gubuk, telah mengajukan kepadanya syarat yang terdengar tidak tahu
diri dan tidak mungkin ia penuhi.
“Aku akan memberinya
kemuliaan dan apa pun yang ia inginkan—“
“Terima kasih, Tuanku.”
“Tetapi tidak mungkin
keturunannya menjadi raja. Hastina sudah memiliki putra mahkota.”
“Kalau begitu Tuanku
bukan raja yang ditakdirkan untuk putriku.”
Santanu meninggalkan
gubuk dengan pikiran rusuh dan mengambil jalan melingkar menuju keretanya; ia memilih
masuk hutan untuk menghindari pertemuan sekali lagi dengan perempuan di atas
perahu. Ia tahu ia harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan menganggap Satyawati
tak pernah ada. Tetapi angin bertiup dari arah belakang, membawa kepadanya harum
yang melumpuhkan, dan Santanu tak mungkin mencegah angin bertiup. Ia hampir
menyerah dan berbalik ke gubuk dan menyanggupi apa yang diminta si nelayan.
“Ini anak kita, Santanu.”
Tiba-tiba ia mendengar
suara Gangga, lalu wajah Gangga, lalu wajah putranya. Ia melihat hari penobatan
Dewabrata sebagai yuwaraja. Lalu suara Gangga lagi:
“Tidak akan ada orang
lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Ia ksatria
utama.”
Ia melihat rakyat Hastina
bersuka cita menyambut putra Gangga, ksatria yang kelak menjadi raja mereka.
Tidak mungkin ia mengkhianati semua itu.
Seperti ksatria yang
tercabik-cabik di medan perang, Santanu terhuyung-huyung mencapai keretanya dan
memberi perintah kepada kusir:
“Kita pulang.”
Kusir melarikan kereta seolah
beradu cepat melawan kereta hantu; Santanu yang memerintahkannya. Tetapi secepat
apa pun kereta melaju, Santanu seperti tidak pernah meninggalkan tepi sungai. Ia
terus mencium harum tubuh perempuan itu, dan Satyawati selalu ada di depan mata,
duduk di perahu tambangnya, mengayun-ayunkan kaki ke air biru Yamuna,
menanyakan apakah ia hendak menyeberang.
O, bumi yang fana.
Kebahagiaan seperti tak pernah berumur panjang. Empat tahun ia menikmati waktu
bersama putranya yang telah kembali, tepi sungai memberinya penderitaan sekali
lagi. Dan ia tidak mungkin pulih tanpa mengorbankan Dewabrata, putra Gangga
yang ia cintai, yang mencintainya, dan ksatria utama yang menjadi harapan semua
orang Hastina.[]
Comments
Post a Comment