8. Bhisma dan Amba
AMBA tiba di kerajaan Salwa, cantik dan berkilau seperti putri yang keluar dari sebuah mimpi, dan ia turun dari kereta dengan gerak yang tetap anggun meski hatinya tak sabar dan jantungnya berdetak cepat. Langkah-langkahnya ringan menapaki tanah yang baru sekali itu ia datangi, tanah yang asing namun terasa begitu dekat, seolah-olah setiap butir debu di sana telah menunggu kedatangannya selama bertahun-tahun, berabad-abad, menunggu kedatangannya untuk menemui takdir yang telah ditetapkan sejak hari pertama dunia diciptakan.
Istana masih terlihat murung, seperti tak pernah sanggup melupakan kekalahan rajanya oleh Bhisma, tetapi Amba tidak melihat itu. Ia melihat kebahagiaannya sendiri di dalam benak: senyum pertama Salwa, sambutannya yang hangat, pelukannya yang gemetar, dan segala yang tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Seorang penjaga gerbang mengantarkannya menuju bangsal kencana. Salwa di singgasananya dan para punggawanya duduk bersila di sepanjang sisi kiri dan kanan dinding bangsal. Amba bergerak ke tengah ruangan, dan ruangan itu menyambutnya tanpa suara, dan sekarang ia berdiri di tengah ruangan seperti pohon muda tegak di tengah udara musim dingin. Tangannya sedikit gemetar saat ia menyibak kain sutra putih yang melingkari wajahnya. Dadanya gemuruh oleh mimpi yang kini hampir terwujud.
Ia menenangkan diri dan mengangkat wajah memandangi Salwa dan untuk kali pertama ia merasa sedih melihat kekasihnya. Wajah lelaki itu tampak kurus, dengan gurat-gurat tajam yang membuatnya terlihat lebih tua, lebih lelah, dan seperti tak pernah bahagia. Tetapi dengan semua itu Salwa juga terlihat lebih kuat.
"Rajaku, kekasihku," kata Amba dengan suara lembut dan sangat berhati-hati, seolah ia sedang berbicara kepada bayangan, dan takut bahwa bayangan itu akan hilang jika suaranya terlalu keras. Lalu, dengan kedua tangannya yang halus dan gemetar, ia mengangkat karangan bunga yang dulu belum sempat ia kalungkan ke leher Salwa. “Aku datang untuk menyelesaikan apa yang tertunda. Aku memberi tahu Bhisma bahwa aku telah memilihmu sebagai suamiku, dan dia mengirimku kemari dengan pengawalan kerajaan. Sekarang, aku akan mengalungkan bunga ini ke lehermu. Aku datang untuk menjadi ratumu.”
Ada yang tidak dilihat oleh Amba pada Salwa, lelaki yang menjadi tujuan mimpi-mimpinya, yang ia datangi hari itu dengan rasa bahagia yang membuatnya begitu cantik. Salwa yang ada di hadapannya saat ini bukan lelaki yang menunggu ia mengalungkan bunga, melainkan lelaki yang telah melewati guncangan begitu keras; ia mampu bertahan, tetapi kehilangan sebagian dari dirinya dalam perjalanan untuk pulih dari guncangan.
Sekarang, di singgasananya, Salwa adalah bongkahan batu—keras, dingin, dan kaku. Kedua matanya tampak seperti sepasang lubang hitam yang menyedot semua cahaya di sekitarnya, dan kedua lubang hitam itu kini melihat lurus ke depan, tetapi ia tidak memandangi Amba. Ia menembusnya, seolah-olah perempuan di hadapannya itu hanya kabut. Wajah kurusnya berkedut, memperlihatkan tarikan pada sudut bibir yang gagal menjadi senyum, lalu tawa pendek yang terpotong, dan itu bukan tawa sama sekali, itu hanya derak yang lahir dari lubang kosong.
Amba merasakan hawa dingin mulai merayap dari ujung jari naik ke hatinya. Kebisuan di bangsal itu begitu tebal, hampir membungkusnya, membuatnya merasa takut bernapas. Ketika Salwa akhirnya bicara, suaranya terdengar lebih pahit dari kemarahan dan lebih dalam dari kekosongan.
“Bhisma..., Bhisma...,” katanya dengan nada rendah, lebih kepada orang-orang yang hadir di bangsal ketimbang kepada Amba. “Bhisma merampas tanganmu dan melarikanmu. Dia mengalahkan kami seperti singa yang mengalahkan kawanan serigala. Dan sekarang kau datang, membawa karangan bunga yang telah hancur, membawa kehormatan yang telah ternoda. Apakah kau pikir aku seorang pengemis, yang akan menerima pemberian dari musuhku?"
Suaranya mengambang di udara dan menghunjam lebih dalam daripada yang Amba duga. Ia masih di tengah ruangan, berdiri di sana, menunggu sesuatu, apa saja—sentuhan tangan, senyuman kecil, kata-kata yang menyingkirkan ketakutannya. Tetapi yang ia dengar kemudian adalah kata-kata yang dingin dan menyayat-nyayatnya seperti pisau tak terlihat:
“Kembalilah kepadanya, Putri. Menurut darma ksatria, lelaki yang memenangkan seorang wanita dalam pertempuran sesama ksatria, dialah pemilik wanita itu. Temui dia. Mungkin dia akan melanggar sumpahnya untukmu. Memohonlah padanya, dan lihat apakah dia akan menikahimu. Sedangkan untukku, aku tidak punya tempat untuk sisa-sisa musuhku, baik di istanaku maupun di hatiku.”
Kata-kata itu menghantam Amba, keras dan brutal, membuat dunia di sekitarnya mulai berputar, berputar semakin cepat, dan kemudian berhenti, meninggalkan kekosongan yang mengerikan. Ada jeda sunyi, seakan-akan waktu sendiri menahan napas. Di tengah ruangan, Amba menunduk, memandangi lantai dengan kelopak mata yang bergetar, bertahan sekuatnya agar tetap tegak. Bibirnya gemetar halus—nyaris tak terlihat—tetapi ia menahan diri, menahan tangis yang ingin keluar, menahan semua rasa sakit yang kini mengisi semua bagian tubuhnya.
Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, Amba hanya menarik napas panjang untuk mengumpulkan kembali seluruh martabatnya yang tersisa. Tangannya segera melingkarkan kain sutra penutup wajahnya, dan ia membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan ruangan. Langkah-langkahnya terdengar seperti detak jam yang lambat, detak yang mengakhiri mimpi yang gagal menjadi kenyataan.
Hari itu juga ia kembali ke Hastinapura, sebuah perjalanan yang terasa begitu panjang menuju kegelapan, menuju neraka. Ia tiba keesokan harinya, dengan rambut memutih seolah-olah perjalanan satu hari itu telah merampas sepuluh tahun usianya. Bhisma menunggu di sana, tinggi dan tampan, dan mata mereka bertemu.
"Mengapa kau kembali?" tanya Bhisma, suaranya rendah, seperti sudah tahu jawabannya, tetapi ia tetap bertanya karena itulah yang harus dilakukan.
“Sebab aku harus kembali kepadamu, Dewabrata. Sebab kau meraih tanganku dan mengalahkan para ksatria dan membawaku pergi. Menurut darma ksatria, aku milikmu.”
Tangisnya pecah dan ia berlutut di kaki Bhisma dan suaranya tersendat:
“Aku tidak bisa kembali ke rumah ayahku. Aku tak punya tempat lain kecuali Hastina, tak punya orang lain selain Putra Gangga. Bhisma yang mulia, jangan tolak aku. Ambillah aku sebagai istrimu.”
Bhisma mengangkatnya dengan lembut, dengan ketenangan yang seperti hembusan angin dari utara, tetapi dengan pergolakan yang begitu kuat karena ada sesuatu yang terbelah di dalam dirinya, sesuatu yang berperang, sesuatu yang sulit didamaikan antara keinginan untuk menjaga perempuan ini dan keharusan untuk mempertahankan sumpahnya. Ketika ia menemukan kata-kata untuk gadis itu, suaranya terdengar berat, seolah-olah ia sedang menyakiti dirinya sendiri:
“Bagaimana aku bisa menikahimu, anakku? Aku terlalu tua untukmu. Selain itu, aku telah bersumpah untuk selibat sepanjang hidupku. Jika aku melanggar sumpahku, aku mati pada saat itu juga. Kalaupun aku hidup, nilaiku sama dengan orang mati, dan kau terlalu mulia untuk bersuami lelaki yang sudah mati.”
Amba tidak bicara, hanya memandanginya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, seperti sungai Gangga dan sungai Yamuna. Bhisma hampir tak tahan melihatnya, begitu cantik, begitu rentan, begitu hancur.
“Kalau saja kau mengatakan satu patah kata saja waktu itu, aku akan meninggalkanmu di swayamvara itu dan kau bisa mengalungkan bungamu kepadanya. Tetapi kita tak pernah bisa memahami takdir. Ia selalu mempermainkan kita, dan kita seolah-olah tidak pernah belajar dari semua pelajaran yang ia berikan. Kembalilah ke Salwa....”
Gadis itu menggeleng.
“Mungkin dia akan berubah pikiran, cepat atau lambat, dan menjadikanmu ratu. Mungkin sekarang ini dia menyesali tindakannya yang gegabah.”
Amba menatapnya. Matanya yang basah memancarkan kesedihan dan kemarahan.
“Kau tidak tahu hatinya,” katanya. “Betapa kuat amarahnya ketika ia melihat aku di hadapannya, dan betapa dingin kebenciannya. Aku pikir aku akan mati saat itu juga. Dan kau ingin aku kembali kepada pria itu dan memohon kepadanya untuk menikahiku? Kau terlalu baik, Dewabrata, dan penuh dengan kebijaksanaan yang luhur.”
Matanya bersinar dengan kemarahan yang tertahan.
“Tetapi kebijaksanaanmu tidak berguna bagiku. Kau tidak ragu ketika menculikku. Mengapa kau tidak bisa menggunakan keberanian yang sama sekarang untuk menyelamatkan hidupku?”
“Maafkan aku atas apa yang telah terjadi, Amba, jika kau bisa melakukannya,” kata Bhisma. “Kau dapat tinggal di kota ini selama sisa hidupmu dan aku sendiri yang akan menjamin kesejahteraanmu. Tetapi untuk menikahimu, aku tidak bisa melakukannya.”
Amba menangis, lama dan pahit. Ia tinggal di Hastinapura karena tidak ada tempat lain baginya untuk pulang. Dua putri Kasi lainnya, Ambika dan Ambalika, menjadi ratu Hastina, sementara dirinya, yang tertua di antara mereka bertiga, tetap sendiri, tak diinginkan, terperangkap dalam takdir yang tidak pernah ia pilih, tetapi itulah satu-satunya kenyataan yang ia miliki.
Setelah enam tahun, dengan pikiran bahwa tidak akan ada apa pun yang lebih pedih ketimbang hidup di neraka yang ia jalani, Amba menemui Salwa sekali lagi. Dan lelaki itu bahkan lebih kasar kepadanya: “Mengapa kamu berpikir aku akan menikahi selir dari Hastinapura?”
Tidak tahan oleh kekejamannya, Amba kembali lagi ke Hastina. Sekarang, dengan Bhisma sebagai sasaran bagi kemarahannya. Ia menganggap Bhisma bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya.[]
Comments
Post a Comment