9. Di Tengah Hutan
SERIBU hari setelah penolakan terakhir Salwa, Amba bangun dari tidurnya dengan amarah yang memuncak kepada Bhisma, tetapi juga dengan harapan untuk menundukkannya—serapuh apa pun harapan itu. Untuk kali pertama kakeknya datang ke dalam mimpinya, rambutnya putih panjang dan janggutnya menjulur menutupi dada. Raja tua itu, yang memutuskan menjadi pengemis setelah turun takhta, muncul dari kabut di tengah hutan, merentangkan tangan untuknya, mengeringkan air mata di kedua pipinya.
Pada tengah hari, setelah gelisah memikirkan mimpinya, ia membuat keputusan yang segera dijalankannya. Para resi. Ia harus menemui para resi dan meminta bantuan mereka untuk menghapus air matanya. Saat itu juga Amba meninggalkan istana. Rambut panjangnya tergerai liar dan langkah kakinya tidak stabil. Ia terhuyung-huyung seperti perempuan yang tersesat dalam mimpinya sendiri dan tidak tahu apakah ia sedang berjalan menuju kebebasan atau justru menuju kehancuran. Tak ada bedanya.
Para penjaga hanya memandanginya, tidak melakukan apa-apa selain memandanginya, seolah mereka melihat sesuatu yang tidak terpahami. Beberapa dari mereka tidak ingin melihatnya. Mungkin mereka tidak ingin mengakui bahwa wanita yang melintas di hadapan mereka, wanita dengan pakaian megah dan tubuh yang dulu memancarkan kecantikan tak terjangkau, kini telah menjadi perempuan gila.
Amba terus berjalan, menyusuri jalan raya raja, matahari menyengat kulitnya, debu mengepul oleh telapak kakinya yang menghentak-hentak jalanan, dan dia seperti tidak merasakan apa pun. Dia hanya terus berjalan, meninggalkan jalan raya, masuk ke jalur yang membelah hutan, jalur yang pernah dia lalui dengan kereta dalam perjalanannya menuju Salwa. Dia tidak peduli lagi pada Salwa. Di kepalanya hanya ada Bhisma. Dan dia akan menemui para resi di hutan, sebab Bhisma harus menikahinya, dan dia akan meminta pertolongan para resi.
Para resi di hutan cemas menerima kedatangannya. Dia cantik, dia perawan, dan dia menyimpan penderitaan. Dia membawa sesuatu yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya—keputusasaan yang terbungkus dalam kecantikan yang sempurna. Para pertapa tua, dengan janggut mereka yang putih panjang, takut bahwa kedatangannya akan mengacaukan jiwa para pemuda penghuni asrama. Mereka hampir saja menolak Amba ketika seorang pengemis tua yang agung, yang suaranya bergema lembut di bawah pepohonan, tiba di asrama itu.
Amba menatap lelaki tua itu, matanya melebar karena terkejut. “Kakek!” serunya. Dia berlari dan menjatuhkan diri di kaki lelaki tua itu. Hotrawahana, kakeknya, raja Kasi sebelum ayahnya, dengan lembut mengangkatnya dan memeluknya erat dan membiarkannya menangis di dadanya.
“Aku memimpikanmu,” kata Amba di tengah isak tangisnya.
“Aku memang mengundangmu kemari,” kata Hotrawahana. “Aku ingin memelukmu sebab kamu sedih sekali.”
Lelaki tua itu mengeringkan air matanya seperti yang dilihat Amba dalam mimpi. Setelah tangisnya mereda, Amba mulai menceritakan apa yang telah terjadi, sejak hari swayamvara yang kini menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai. Kata-katanya keluar pelahan dan terputus-putus, penuh dengan rasa sakit yang lama dia pendam.
Hotrawahana mendengarkan, matanya dalam seperti sumur tua yang menyimpan semua rahasia, dan dia merasakan betapa kuat cucunya terikat pada Dewabrata, dan dia tahu bahwa Bhisma—bukan orang lain—yang merupakan takdir bagi Amba. Bahkan seandainya Salwa bersedia menikahinya, Amba tidak akan pernah bahagia. Cucunya adalah gadis yang penuh gairah. Begitu Bhisma meraih tangannya, dia menjadi milik Putra Gangga selamanya, tidak peduli seperti apa pun gadis itu sebelumnya mencintai Salwa. Dan bagaimana gadis itu bisa menghindari pesona Dewabrata? Dia ada dalam kereta Bhisma dan menyaksikan betapa perkasa Putra Gangga itu ketika mengalahkan semua lawannya.
“Ada satu orang,” katanya, “yang mungkin bisa membantumu. Dia akan datang kemari beberapa hari lagi.”
Amba merasa sedikit tenang. Dia diizinkan tinggal di asrama, menunggu kedatangan orang yang dimaksudkan oleh kakeknya. Dan orang itu datang, pada suatu pagi, didahului oleh suara langkah kakinya yang berat. Para pertapa muda menyambutnya. Pria itu tinggi besar, hampir seperti gunung, dengan rambut panjang dan tebal seperti surai singa. Ia tua dan muda sekaligus—ia titisan Wisnu. Matanya memancarkan ketenangan dan kebijaksanaan, tetapi juga menyimpan amuk gelombang yang tak terhalangi oleh siapa pun.
Para resi tua segera bersujud di hadapannya. Tamu itu tampak bahagia melihat Hotrawahana dan memeluknya hangat. Hotrawahana membawa Amba ke hadapannya. “Guru Bhargawa,” katanya dengan penuh hormat, “ini cucuku Amba. Dia membutuhkan bantuanmu.”
Rama Bhargawa menatap Amba dan meletakkan tangannya dengan lembut pada kepala gadis itu. Amba merasakan anugerah mengaliri sekujur tubuhnya. Dia merasakan ketenteraman sesaat, seolah-olah Bhargawa telah menghilangkan seluruh rasa sakitnya dengan sentuhan tangannya. Tetapi perasaan tenteram itu hanya sementara. Bhargawa menatapnya, matanya menembus dinding kesedihan yang begitu tebal pada gadis di hadapannya.
Akhirnya, dia menghela napas dan berkata dengan suara dalam dan lambat, “Kau dibanjiri kesedihan, Anakku.” Dan kemudian dia berbalik ke arah Hotravahana, "Teman lama, siapa yang telah membuatnya sesedih itu?”
Hotrawahana mengulangi cerita yang dia dengar dari Amba, dan Bhargawa tampak terkejut ketika mendengar nama Dewabrata. “Aku akan meminta Bhisma menikahimu,” katanya.
Saat itu juga Bhargawa mengirim seorang resi muda ke Hastinapura untuk memberi tahu Bhisma bahwa gurunya ingin bertemu. Bhisma tiba di hutan itu tak lama kemudian dan bersujud di kaki gurunya.
Sang guru tertawa bahagia dan memberkati muridnya dan mengangkat Bhisma dari sujudnya dan memeluknya kuat-kuat. Bhargawa tidak pernah mengangkat seorang ksatria sebagai murid kecuali Dewabrata dan ia sangat menyayangi muridnya.
“Dewabrata, sudah lama sekali. Dan kau sudah menjadi lelaki dewasa sekarang. Aku sering bertanya kepada ibumu, tetapi ia juga tidak pernah mendengar kabarmu.”
Bhisma menunduk takzim. “Guru memanggilku. Ada yang harus kulakukan?”
Bhargawa memandangi Bhisma lekat-lekat, seperti ingin menemukan rahasia paling tersembunyi pada murid yang sangat dikasihinya, dan dengan nada datar ia berkata:
“Hotrawahana ini teman lamaku, Dewabrata, dan teman yang sangat berharga. Belum pernah dia meminta apa pun kepadaku, sampai hari ini.”
“Akan kulakukan, Guru,” kata Bhisma, “apa pun yang aku bisa.”
“Hanya masalah kecil.”
“Ya, Guru.”
Bhargawa memberi isyarat kepada Amba untuk maju. Ketika Bhisma melihatnya, wajahnya berubah, matanya menjadi berkabut. Amba, perempuan yang menderita karena takdir mempertemukan gadis itu dengannya. Bhisma menunduk, dan menjadi sangat diam. Bhargawa memecah kebisuan dengan kata-katanya, “Kau mengenalnya, Dewabrata?"[]
Comments
Post a Comment