10. Perang Tanding Guru dan Murid

BHISMA menenangkan diri dan menjawab pertanyaan gurunya dengan suara yang nyaris seperti bisikan:

“Amba.”

“Aku ingin kau menikahinya,” kata Bhargawa.

Bhisma mengangkat wajah dan memandangi gurunya.

“Aku terikat sumpah untuk tidak menikah seumur hidup, Guru.”

“Sumpah yang berat. Tetapi aku gurumu, Dewabrata, dan seorang murid bisa melanggar sumpah demi gurunya. Dan aku memerintahkanmu sekarang, kau harus menikahi putri ini. Bukankah kau sendiri ingin menjadikannya istrimu? Aku melihatnya pada matamu.”

“Jangan memintaku melakukannya, Guru. Kau tahu sepenting apa sumpahku dan kenapa orang harus menjaga sumpahnya.”

"Ya, para penghuni langit dan bumi membicarakan sumpahmu. Tetapi aku telah berjanji kepada Hotrawahana bahwa kau akan menikahi Amba. Apakah kau ingin aku melanggar janjiku? Apakah kau ingin mempermalukan gurumu?"

“Mintalah nyawaku, dan aku akan memberikannya dengan senang hati. Tetapi jangan memintaku melanggar sumpah. Aku tidak bisa melakukannya, bahkan demi dirimu.”

Mendengar ucapan Bhisma, tubuh Bhargawa bergetar menahan pertarungan hebat di dalam dirinya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan Bhisma, ia tahu itu, tetapi ia telah berjanji kepada Hotrawahana. Dipandanginya teman lamanya itu, dipandanginya Amba, dipandanginya Dewabrata, murid tunggal yang ia kasihi. Bhargawa tidak pernah menerima murid, tetapi ia tidak kuasa menolak ketika Dewi Gangga datang menemuinya dan mengatakan: “Ini putraku, Bhargawa. Jika waktunya tiba, dia akan menjadi raja Hastina. Jadilah guru baginya, agar dia kelak menjadi raja yang mampu memakmurkan kerajaan dan melindungi rakyatnya.”

Bhisma menunduk di hadapan gurunya, dia hanya menunggu, dan dia tahu gurunya tidak mungkin menarik perintah.

“Dengan hukum abadi guru dan murid,” kata Bhargawa, “yang telah turun dari generasi ke generasi....”

Bhargawa terdiam lama. 

“Kau tidak memberiku pilihan, Dewabrata. Aku harus mengutukmu.” 

Dia terombang-ambing antara kemarahan dan cinta kepada muridnya. Suaranya terdengar lembut ketika dia mengatakan:

“Atau kau harus melawanku."

“Aku akan melawanmu.”

Bhargawa menatap muridnya lama sekali, seolah sedang mencari jawaban di balik matanya. Tanpa sepatah kata, dia berbalik dan berjalan menjauh, menuju sebuah lapangan tersembunyi di dalam hutan, jauh dari asrama para resi yang damai. Bhisma mengikuti langkah gurunya dan melarang para resi mengikuti mereka. Amba memandangi guru dan murid itu menjauh dan merasa dunianya hancur. Dia yakin Bhargawa akan mengakhiri hidup Bhisma, pria yang takdirnya terjalin erat dengan dirinya. Siapa yang mampu mengalahkan titisan Wisnu?

Amba merasa tubuhnya gemetar. Dia mencengkeram erat lengan Hotrawahana seolah mencari pegangan dalam kekacauan yang dia tahu dialah penyebabnya. Bhisma akan mati sebentar lagi. Untuk sesaat ia merasa begitu bersalah, tetapi sesaat berikutnya ia menyapu rasa bersalah itu dengan amarah yang menggelegak tiba-tiba. Biarlah lelaki itu mati, sebab dia pantas mati. Bhisma telah menghancurkan hidupnya, maka kematian akan menjadi hukuman yang adil bagi kesalahannya. 

*

Di tengah hutan, guru dan murid tiba di lapangan yang terbuka. Tanpa aba-aba, Bhargawa berbalik cepat seperti kilat, mengirimkan serangan astra yang menyala terang menuju Dewabrata. Astra itu melesat dengan kecepatan cahaya, namun Bhisma, yang sudah terlatih dengan baik, memadamkannya dengan panah airnya dalam sekejap mata. Kedua pemanah itu bergerak seolah-olah waktu berhenti; keahlian mereka tak tertandingi.

Ketika api dan air akhirnya mereda, Bhargawa melepaskan serangan kedua, kali ini ia menembakkan senjata ilusi. Ribuan anak panah tampak melesat menuju Bhisma, dan Putra Gangga memusatkan pikirannya untuk mengenali panah yang nyata, satu yang melesat menuju jantungnya. Bhisma membelah panah itu menjadi dua sebelum ia menembus dadanya. Ribuan panah lainnya lenyap seketika.

Sekarang, Bhisma ganti menyerang. Dia melepaskan agneyastra, panah api yang menyala terang, ke arah gurunya. Di seberang lapangan, gurunya telah meninggalkan bentuk manusianya dan berubah menjadi cahaya putih yang memancar dan menerangi seluruh hutan. Dengan astra baruna, dia memadamkan panah Bhisma yang membawa seratus api. Kedua pemanah itu berdiri terengah-engah, namun mereka sudah memulai pertarungan dan tidak mungkin mereka menghentikannya. Mereka sama-sama sedang menjalankan dharma.

Bhargawa, atau Parasurama, adalah awatara keenam Wisnu yang bertugas menegakkan keadilan dan membersihkan dunia dari para ksatria lalim. Pembunuhan terhadap ayahnya, Resi Jamadagni, oleh seorang raja memberinya alasan untuk tugas itu. Dalam kemarahannya, dia bersumpah untuk menumpas para ksatria, dan dia telah menumpas 21 ksatria untuk menegakkan keadilan dan mengembalikan keseimbangan dunia sehingga dia dikenal sebagai “Penumpas Ksatria”. Sekarang, dalam perang tandingnya dengan Bhisma, dia membela Amba yang mengalami kehancuran, dan kehancuran itu disebabkan oleh Bhisma. 

Sementara itu Bhisma adalah ksatria dan perang tanding adalah dharma ksatria. Dia harus membela sumpahnya, dan jika untuk itu dia harus berperang, dia tidak akan menghindar. Tidak mungkin dia mengingkari dharmanya, meskipun yang dia hadapi adalah gurunya sendiri.

*

Pertarungan terus berlanjut, dan senjata baru yang mereka gunakan untuk saling menyerang selalu lebih kuat dan lebih rumit dibandingkan sebelumnya. Berhari-hari mereka bertarung. Bumi bergetar di bawah kaki mereka dan langit terguncang. Para dewa turun dari langit untuk menyaksikan perang tanding antara guru dan murid.

Dari balik beringin besar, Amba mengintip perang tanding itu. Dia harus menyaksikan sendiri Bhisma tewas di tangan gurunya. Maka, dia lari dari para resi dan mengikuti Bhargawa dan Bhisma, dan menyaksikan duel itu dengan mata memancarkan api kebencian.

Pada hari ke-24, ketika tampaknya tidak ada yang akan menang, Bhisma memusatkan pikirannya untuk memanggil praswapastra, senjata kedewaan yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan dunia. Ia sudah menarik busurnya dan siap melepaskan astra penghancur itu ketika dua sosok tiba-tiba muncul di lapangan.

Rudra yang ganas, awatara Siwa, pembawa badai dan semua bentuk kengerian. Ia berdiri dengan tubuh menjulang seperti pohon, kulit seputih awan, dan rambut gimbal terjuntai hingga ke bahu. Ada bulan sabit di semak-semak rambutnya dan ular kobra melingkari tubuhnya yang ramping. Di sampingnya berdiri Narada, putra Brahma, pengembara abadi yang umurnya setua bintang-bintang.

Dengan suara yang menggelegar seperti guntur, Rudra berkata, “Hentikan, Dewabrata. Waktunya belum tiba. Belum saatnya bagimu untuk mengakhiri zaman ini, dan itu bukan tugasmu.”

Bhisma berdiri membeku, tangannya yang memegang busur masih menegang. Narada mendekat, memanggil Bhisma dengan suara lembut, membangunkan Putra Gangga dari pemusatan pikirannya. Pelahan Bhisma membuka mata. Dengan desah napas yang berat, dia menurunkan busurnya. Perang tanding berakhir. 

Semua merasa lega, kecuali satu, perempuan di balik beringin besar yang matanya memancarkan amarah kepada Bhisma. Dia merasa udara begitu dingin dan dunia begitu gelap dan dia menggigil di tempatnya. Bhisma harus mati. Dia sendiri yang akan mengupayakan kematiannya dan dia harus menyaksikan sendiri ketika saat itu tiba. []


Comments